Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Tuesday, 13 January 2015

Jelajah Kloangpopot

Menikmati Murun Di Tengah Hutan
Mantap! Jelajah alam yang dilakoni inimaumere.com hari ini merambah hutan alamiah di Dusun Dala Elat, Kecamatan Doreng. Fenomenal karena ekspedisi yang memakan waktu 4 jam pulang pergi ini ditemani bayi ajaib. Jefa Reyner yang belum genap setahun pemirsa. Maka eksepdisi terasa istimewa. Selain bertemu air terjun, kami juga sempat melihat peninggalan batu meteor di dusun tersebur. Maka inilah kisah selanjutnya menelusuri belantara Kabupaten Sikka, NTT. Tanah yang memiliki pesona alam nan indah indah namun belum dikelolah secara maksimal! Yuuukk!!

Hari Minggu (11/01/2015). Siang itu hujan membasahi sebagian wilayah Kota Maumere. Angin kencang kali ini pergi entah kemana. Intinya cuaca hari ini cukup bagus.

Jarum jam telah melewati pukul 12.00 wita. Kami mulai bergerak meninggalkan Kota Maumere. Tujuan kami tentunya menuju ke arah timur dari Kabupaten Sikka. Tepatnya di atas pegunungan sejuk Desa Kloangpopot.

Rombongan kami berjumlah 12 orang. Ramai kan? Bayangkan sendiri bagaimana nanti kisah kami saat disana. Lucky Reyner, Manager Radio Sonia FM kali ini tidak sendiri. Si Gimbal ini mengajak pula keluarga kecilnya plus dua ponakan yang berjiwa petualang, Rahel dan Mitchel.
Jefa Reyner, si bayi bolang tak ketinggalan. Selain itu hadir pula beberapa kru Sonia FM, Rere, Pinkan, Rhiny, Mr. Zemut. Ada juga rekan Jun Juje si penikmat alam serta Baim si fotografer dan tentu saja saya sendiri.

Desa Kloangpopot berada di atas ketinggian. Hawanya sangat sejuk. Untuk mencapai desa ini dari Kota Maumere kita melaju kearah timur. Kira-kira 7 Km, tepatnya di Geliting, ibukota Kecamatan Kewapante kita akan bertemu pertigaan. Ambil saja belokan ke kanan, searah menuju Gereja Renya Rosari. Dari pertigaan inilah akses masuk menuju kearah pegunungan. Wilayah Kloangpopot masuk dalam administrasi pemerintahan Kecamatan Doreng.

Mencapai Kloangpopot tak perlu kuatir. Aspal jalan terbilang lumayan meski ada beberapa ruas yang compang camping. Banyak kelokan kanan kiri nan sempit. Tentu saja kita mesti sangat hati-hati.

Kira-kira 40 menit kami akhirnya tiba di Desa Kloangpopot. Kabut tipis mengintip dari atas pegunungan. Dingin. Beberapa anak sungai membelah jalan. Airnya segar. Rasanya ingin berlama-lama namun kami mesti sampai Dala Elat. Keluarga Lucky sudah menunggu.

Okey men, Singkat cerita kami akirnya tiba di Kloangpopot, tepatnya di rumah Tanta Nona. Kami disambut ramah. Kira-kira 20 menit beristirahat, kami mulai beranjak pelan. Melewati gereja dan jalan rabat. Kira-kira 2 Km treking santai ini kami lakoni. Dusun yang segar. Orang-orang kampung yang selalu memberi senyum ramah. Saya jadi teringat . Setiap jejak petualang yang saya lakoni di pedalaman kabupaten ini selalu dihadiahi keramahan. Anda yang menjejaki Flores, terutama ke pedalaman janganlah risau. Ketulusan yang diberikan masyarakat setempat telah menjadi indentitas Flores sejak dahulu. Welcome!

Perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya membawa kami di depan akses masuk. Dibatasi pagar dan kebun durian serta salak, perjalanan dilanjutkan dengan topografi yang tak ramah. Kloangpopot memang terkenal dengan kedua buah-buahan ini.

Perlahan kami menorehkan jejak disini. Air terjun Murun menunggu kami mereguk eksotismenya. Hutan lebat dan jalan terjal menurun bukanlah tantangan berarti. Kali kesekian, olahraga alam ini membangkitkan kecintaan pada alam Flores. Ditengah kemiskinan dan bau korupsi dimana-mana, kabupaten ini memiliki sejumlah potensi alam yang menunggu disentuh. Ladang 'emas' yang menjanjikan kebangkitan ekonomi masyarakat setempat! Itu pun kalau dikelola secara benar!

Jefa si bayi petualang telah melesat duluan dalam dekapan papanya, Lucky. Sedangkan yang lainnya masih berkutat pelan. Maklum jalan tanah yang lembab cukup licin. Great! Mereka cukup antusias menikmati eksotisme akses masuk menuju air terjun. Jaraknya hampir 500 meter dengan akses jalan menurun tajam. Hati-hati!

Maka gemuruh Murun menyambut kami. Aliran sungai yang berasal dari limpahan Murun telah mencubit telapak kami. Dingin dan segar. Seperti dalam kulkas.

Para petualang melaju melawan aliran sungai. Rahel (8 tahun) dan Mitchel (5 tahun) berupaya keras menaklukan alam Flores yang baru dikenalnya. Kedua bocah ini berasal dari Bandung dan kini menetap di Maumere. Mantap! Ketika saya mencoba bertanya pada Rahel, setelah Kloanpopot mau kemana lagi? Dengan cepat bocah ini menjawab, Gunung Egon! Hahaha..okeyy okeyy!!

Setelah berkutat dengan lelahnya, maka perjalanan ini berakhir. Air Terjun Murun yang berada di tengah hutan menyambut kami. Hempasan air pada batu-batu cadas memercik dingin. Rasanya segar mengobati lelah. Yang lain mulai menyatu bersama derasnya. Mandi ditengah hutan itu sesuatu!

Pelangi Kecil
Ditengah kemeriahan sebersit pelangi kecil nampak menyemburat indah. Hadiah spesial ini membuat teman-teman petualang berebutan memotret. Lengkungan yang indah seakan memayungi setengah air terjun. Pemandangan yang menghapus lelah dan semua merasa sangat enjoy. Hadiah yang tidak pernah disangka-sangka!

Bahkan ketika ada yang membasuh tubuh dibawah derasnya, pelangi ini tetap setia memayungi.
Keceriaan di tengah gemuruh Murun berlangsung cukup lama. Bekal yang dibawa kemudian disantap beramai-ramai. Yang tidak lapar menjadi lapar, yang lapar makin lahap. Si Bayi Jefa lagi lagi menunjukan bakat petualangannya. Tidak sedikitpun bayi ini rewel meski dicubit dinginnya percikan air dan perjalanan di tengah hutan. Minggu lalu bayi mungil ini baru saja menjelajah kawasan hutan Egon, tepatnya menuju Air Panas Blidit.

Tanta Nona yang mengawal perjalanan kami, penduduk Dala Elat bilang, Air Terjun Murun tersebut baru saja dikenal dan dibuka luas untuk didatangi. Menurutnya, kami adalah orang-orang ketiga yang mendatangi air terjun ini. Banyak yang belum mengetahui keberadaan air terjun yang berada dalam tanah milik mereka. Dan kami? Merasa beruntung!

Maka setelah puas bercanda dan menikmati segarnya alam Kloapopot, kami berpamitan padanya. Pulang. Kali ini kami mencoba rute baru. Yakni menelusuri kali kering. Lebih bagus bro. Karena jika melewati akses pertama maka dipastikan tenaga akan terkuras. Karena akan mendaki dengan beberapa kelokannya. Sedangkan jalur kedua ini lebih santai. Datar-datar saja. Namun pintu keluarnya cukup jauh dari akses masuk pertama. Sehingga Lucky perlu menjemput kami menggunakan oto hardtopnya.

Matahari mulai pulang. Dan saat itu magrib sudah tiba. Udara Kloangpopot mengabari kami agar segera beranjak karena hari mulai malam. Setelah berpamitan pada Tanta Nona, suami dan anak-anaknya yang baik hati, kami akhirnya meningglkan desa ini. Sebuah petualang yang seru berakhir. Keren.(ossrebong)


 
Komunitas Kaki Gatal Maumere
Selengkapnya...

Friday, 2 January 2015

Tutup Tahun Semarak

Selamat Datang 2015
Maumere larut dalam gemerlap kembang api yang tak habis. Pesta menyambut pergantian tahun dirayakan dengan berbagai cara. Beberapa jam sebelumnya dentuman sudah terdengar dimana-mana. Kembang api sudah menghiasi angkasa kelam. Indah.
Pawai kendaraan yang biasa mengganggu arus lalu lintas kali ini hampir tak nampak. Sejumlah petugas kemananan nampak berjaga dibeberapa tempat strategis.

Konsentrasi massa untuk menikmati gebyar kembang api terjadi di beberapa tempat di Maumere.. Di eks Pasar Bongkar, Jalan Eltari, Bupati Ansar, Wabup Nong Susar serta sejumah pejabat teras Pemda Sikka, Ketua DPRD Sikka Rafael Raga merayakan pergantian tahun bersama masyarakat umum. Lain lagi di kawasan pertokoan yang sudah terkenal tiap tahun selalu menyajikan gebyar kembang  diserbu sejumlah warga Maumere.

Begitu juga daerah Kabor, Lapangan Umum, Pelabuhan L. Say dan beberapa lokassi lainnya. .Sedang warga yang lain memilih merayakan pergantian tahun bersama keluarga dan teman serta kembang api bagi anak-anak.  Speaker disusun bertingkat dengan musik yang tak putus di pekarangan rumah.

Beberapa tempat hiburan seperti kafe dan pub tak mau ketinggalan. Berbagai kemasan acara menyambut tahun baru disuguhkan menarik pengunjung. Dentuman irama ngebeat dejaay membawa para pengunjung larut hingga pagi.

Ritual kembang api, petasan dan meriam bambu bahkan terus menghajar langit Maumere hingga pukul 3 dinihari.

Siangi ini, 1 Januari 2015, Kota Maumere yang biasa panas mendapat berkah. Sejak pagi hujan gerimis membasahi kota ini. Mendung tebal nampak bergelayut mesra di langit pucat.

Sejumlah warung tutup hingga sore hari, pertokoan berhenti beraktivitas, hanya segelintir orang yang berlalulalang di jalan. Sesekali masih terdengar tembakan meriam bambu dan petasan ditengah gerimis.

maumere (alfonsholari)

www.inimaumere.com

Selengkapnya...

Monday, 29 December 2014

Natal Ditengah Dentuman

Kota Sepi Saat Natal
Misa Malam Natal yang berlangsung di Kota Maumere sedikit terganggu. Hal ini disebabkan maraknya permainan petasan, kembang api plus meriam bambu. Di hampir semua sudut kota para bocah bermain seperti tak lelah. Langit yang begitu cerah sejak magrib terus dihiasi berbagai kembang api. Di lain sudut tembakan meriam bambu beradu dengan letupan petasan. Sangat ramai sehingga mengganggu konsentrasi peribadatan di sejumlah gereja. Namun umat tetap khusyuk dan terus mengikuti perayaan malam Natal hingga usai.

Di Gereja Katedral St. Yosep Keuskupan Maumere, beberapa umat nampak menggerutu ketika tembakan kembang api yang begitu besar meledak tak jauh dari atap gereja. Begitu pula tembakan meriam bambu yang lancar tak berhenti. Untunnya umat di gereja tua ini tetap tegar dan melanjutkan misa hingga usai.

Uskup Mgr. Kherubim Pareira, SVD yang memimpin misa malam Natal terlihat tetap santai seolah tak terganggu. Dalam kotbahnya, beliau berpesan agar lingkungan keluarga dapat menjadi pusat pendidikan paling terdepan dalam membentuk karakter anak. Ia berharap agar senantiasa dalam kehidupan bermsyarakat umat tetap menjaga nilai-nilai kasih yang telah dibawa dan diwartakan Jesus kepada dunia.

Misal malam Natal di Katedral berlangsung dua kali yakni pukul 17.00 wita dan 20.00 wita. Di depan gereja dibangun dua buah tenda kecil. Dalam perayaan Natal, umat terlihat membludak dan memenuhi halaman luar gereja.

Permainan petasan, meriam bambu dan kembang api bukannya berhenti, malah terus berlangsung hingga tengah malam. Terkesan kota ini mirip kota dalam situasi perang. Dimana-mana letusan terdengar.

Sedangkan saat hari Natal, 25 desember 2014, Kota Maumere tampak sepi. Jalan protokol sepi. Pusat perbelanjaan tutup. Warung-warung makan tutup. Hal ini kontras ketika melihat suasana menjelang Natal. Pusat perbelanjaan dan jalan nampak macet.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

KM. Lambelu Buka Rute Maumere


Siang tadi, Senin (29/12/2014), KM. Lambelu untuk pertama kali berlabuh di Pelabuhan L. Say Maumere. Kapal milik Pelni tersebut membawa ratusan penumpang tujuan Maumere. Lambelu berangkat dari Makasar 28 desember dan selanjutnya akan berlayar ke Lewoleba dan Kupang. Pelayaran perdana KM Lambelu menuju Maumere disambut keluarga penumpang yang telah menunggu semenjak pagi. Sedangkan saat berlabuh, puluhan bocah pelabuhan menyambut dengan atraksi menarik melakukan salto kedalam air dan bergelantungan pada tali kapal. 

 
Hadirnya KM. Lambelu disambut erat ratusan warga Maumere yang berkomentar lewat akun FB Grup www.inimaumere.com. Semua menyambut gembira dan memberi masukan lain agar rute Bali, Papua juga dibuka. Menurut mereka selama ini hanya rute sulawesi dan Kalimantan yang dibuka sedangkan rute Lombok, Bali dan lainnya masih dibiarkan kosong. Padahal banyak penumpang dan warga NTT yang membutuhkan layanan. 

Pelayaran perdana KM Lambelu tersebut bertujuan meningkatkan pelayanan pengguna jasa angkutan laut di wilayah NTT. Selain Lambelu, dua kapal milik Pelni yang telah beroperasi di Pelabuhan L. Say adalah KM. Umsini yang membuka rute ke Sumatera dan KM. Bukit Siguntang yang memiliki rute sama dengan Lambelu. 

RUTE KM LAMBELU:
Maumere-Lewoleba-Kupang-Lewoleba-Maumere-Makasar-Pare-pare-Balikpapan-Pentoloan-Tarakan-Nunukan PP.

 
www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Wednesday, 17 December 2014

Grasstrack Kali Mati 2014 Dipadati Ribuan Penonton

Luar biasa. Kali Mati hari yang membelah Kelurahan Kabor dan Kelurahan Kota Baru di Kota Maumere sore tadi dipenuhi ribuan manusia. Pasalnya Grasstrack yang di selenggarakan Karang Taruna Kabor sudah ditunggu para pecinta balap di Maumere. Bagai magnet ditengah hausnya hiburan, arena adu balap sekejap dipadati ribuan penonton. Panitia nampak kewalahan menghimbau penonton yang merengsek ke bibir pembatas. Ribuan lainnya memagari arena bagai tembok pembatas. Yang tak kebagian memanjat atap-atap rumah, tandon air bahkan papan reklame. Panitia dan pihak kemananan benar-benar bekerja keras. Hingga usai pertandingan adu balap berlangsung aman.

Penyelenggaraan Grass Track Kali Mati 2014 dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Sikka Drs. Paolus Nong Susar, Rabu (17/12/2014) jelang sore. Panitia yang diisi pemuda Kabor menarik karcis masuk Rp 5 Ribu. Parkiran motor dan mobil memadati pelataran parkir pertokoan khususnya Toko Mustika, Agung Motor dan lainnya. Alur lalulintas melewati jembatan Bogor ditutup sementara.

Menurut salah satu anggota Karang Taruna Kabor, penyelenggaraan adu balap ini dimulai 17 desember hingga 22 desember 2014. Selain para pembalap yang berasal dari beberapa klub balap di Maumere, panitia juga mengundang beberapa klub balap dari kota-kota lainnya di Flores. Tujuannya agar ada persaingan dalam berbagai kelas sehingga dapat meotivasi para pembalap lainnya dalam lomba adu cepat ini.

Ada enam kelas yang dipertandingkan di hari pembuka, Rabu (12/12/2014). Keenam kelas tersebut yakni Kelas Pemula, Bebek campuran, sport Trail, FFA, Bebek 2 Tak open, Bebek Empat Tak Open.

Arena sirkuit menggunakan badan Kali Mati yang telah kering. Garis start dimulai dari bawah jembatan Bogor. Para pembalap kemudian mengadu kecepatan melewati trek sirkuit. Area sirkuit ditandai dengan ban oto (mobil) dibeberapa tikungan ytk memudahkan para pembalap.

Penyelenggaraan di hari pertama tergolong sukses. Namun panitia mesti beerja keras dalam menghimbau penonton yang tak mudah diatur.



www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Tuesday, 16 December 2014

Air Terjun Wair Horet, Pesona Wair Terang

Di Tengah Hutan Asri dan Tentram
Destinas berikutnya yang menggoda hasrat adalah menikmati air terjun. Saya beruntung, setelah air terjun Murusobe, Watu Wa, Lewak, saya diijinkan bertemu tumpahan air dari tebing batu di dalam hutan Wair Terang. Yap air terjun berikutnya adalah Wair Horet. Konon, Wair Horet adalah tempat pemandian Du'a Toru. Dalam kisah penjajahan beliau adaah pemimpin pasukan rakyat yang gagah berani melawan Belanda. Menjejaki perjalanan beliau di belantara hutan yang menjanjikan potensi wisata ini adalah sesuatu yang menantang. Tempat yang nyaman dan bikin betah. So, saya pantas berbangga.

Minggu 14 Desember 2014, saya dan Fritez Baim, seorang fotografer memasuki Dusun Wodong sekitar pukul 15.00 Wita. Kami disambut suasana dusun yang sejuk. Sejumlah orang-orang dusun bertegur dengan tanda tanya.

Om Tarsi yang telah menanti kedatangan kami memberi sapaan akrab. Di bawah pepohonan rindang kami disuguhi kopi hangat dan kue. Ada juga Mo'at Karolinus. Mereka berua adalah sahabat yang ingin mengantar kami bertemu air terjun. Sebagai penduduk dusun, keduanya memberikan beberapa masukan sebelum treking.

Dusun Wodong berada dalam wilayah administrasi Desa Wair Terang dalam pemerintahan Kecamatan Waigete. Dusun ini berada tak jauh dari pantai. Di pesisir Wair Terang ada sejumah cottage yang disewakan. Maklum saja, wilayah Wair Terang sejak dahulu dikenal sebagai destinas yang menawarkan panorama wisata bahari dan suguhan sunset nan indah.

Jarak dari Kota Maumere sekitar 35 Km. Sebelum mencapai wilayah ini sejumlah panorama lepas pantai bisa dinikmati. Kita akan melewati Waipare di Kecamatan Kangae, Geliting dan Krokowolon di Kecamatan Kewapante dan Waerbeler, Wairita di Kecamatan Waigete. Waigete adalah ibukota Kecamatan Waigete. Di Kecamatan Waigete ada sejumah potesi wisaya yang belum digarap. Misalnya wisata pertanian, wisata Air Panas di Dusun Blidit, Wisata Gunung Egon, dan sejumlah potensi budaya, religi dan lainnya.

Kira-kira 30 menit perjalanan yang dibutuhkan untuk mencapai Wair Terang. Pantai Wair Terang dahulunya merupakan tempat wisata warga Kota Maumere. Saya jadi ingat, ketika kecil kami leluasa bertemu banyak monyet yang berseliweran di jalan-jalan dan di sekitar pantai Wair Terang, Di tempat wisata Wair Terang saat itu ada air pancuran yang deras mengalir. Kami para bocah bersama wisatawan domestik lainnya selalu menyempatkan diri mandi-mandi usai berendam di laut. Ditonton sejumlah monyet, Wair Terang kala itu sangat asri. Hutan, pantai, sunset, air pancuran dan monyet-monyet menjadi primadona. Sayang atraksi para monyet tak lagi bisa dijumpai. Air pancuran telah lenyap, pantai wair Terang penuh sampah plastik. Tinggalah sunset yang setia bagai kekasih.

Setelah beristirahat sekitar setengah jam, akhirnya kami mulai bergerak. Hasrat mencapai air terjun sudah diubun-ubun. Yuk, berangkat.

Menurut Om Tarsi jarak ke air terjun dari dusun sekitar 1 Km. Lumayan. Olah raga gratis di tengah alam bebas.

Setelah menelusuri rabat dusun, akhirnya jalan setapak dari tanah kami jejaki. Pemandangan mata langsung disuguhi alam indah, Persawahan, aliran air, perbukitan dan hutan perkebunan. Sejuk. Kami juga melewati beberapa rumah penduduk. Dua bocah yang sedang bermain di halaman langsung bergabung bersama kami. Mereka sendiri yang menawarkan diri. Seperti air panas Blidit, bocah-bocah di sini juga antusias. Mereka adalah guide cilik yang tulus menerima kehadiran wisatawan mengunjungi obyek wisatanya.

Kami cukup beruntung karena Topografi jalur yang kami lewati tidaklah terjal. Landai. Jadi tenaga kami tidak disedot seketika.

Setelah perkebunan warga, trek berikutnya memasuki hutan Wair Horet. Banyak pohon-pohon besar dan tua yang berdiri kokoh. Kami juga melewati tiga aliran sungai. Sungai-sungai ini masih menampakan airnya yang mengalir deras. Dipadu desiran angin, pepohonan dan hewan, suasana sungguh tentram. Jika waktu lebih banyak sebenarnya bisa berisitiraat sejenak. Menikmati alam sejuk yang bikin hati teduh.

Ada pula jalan setapak yang mengarah ke dusun sebelah. Dusun tersebut berada di atas bukit. Untuk mencapainya butuh tenaga lumayan. Namun dari dusun ini disajikan pemandangan indah ke lepas pantai. Sunset bisa dinikmati sepuasnya. Demikian penuturan Om Karol. Namun tujuan kami tidak searah jadi kami pending dulu trek ke bukit.

Nah, setelah keringat besar kecil membasahi tubuh ini. akhirnya air terjun tersebut perlihatkan keanggunannya. Suaranya terdengar khas menandakan tumpahan air yang cukup deras. Indah. Sejuk dan tentram.

bocah dusun dan air terjun miliknya :D
Jarak 20 meter sebelum air terjun, ada sebuah pohon raksasa dengan akar-akar yang kokoh mencengkram batu sebesar rumah. Tinggi sekali. Saya mesti mendongakan kepala untuk memastikan berapa tingginya. Sangat keren dan asri sekali hutan ini.

Air Terjun Wir Horet ini jatuh dari atas tebing. Tingginya sekitar 15 meter. Di dasar kolamnya banyak bebatuan. Di sebelah kiri dari air terjun berdiri sebuah batu yang digunakan pengunjung untuk mendekati tumpahannya tanpa basah. Sedang di sisi kanan nampak tebing batu yang cukup tinggi dan lebar.

Anda juga bisa menceburkan diri ke dalam kolamnya. Namun mesti hati-hati. Sebab di dasarnya banyak batu yang tidak rapi tersusun.

Sekeliling tempat ini bikin betah. Pantas saja kalau seorang pahlawan Du'a Toru berbetah diri di tempat ini. Ingatan saya kembali ke jaman penjajah dulu. Tempat ini pasti lebih indah dengan debit air yang lebih besar dan tentu linkungannya yang sejuk. Saya bisa bayangkan betapa keasriannya saat itu.

Di sebelah kanan dari air terjun dengan tebing yang cukup tinggi dan lebar. Diatas tebing tersebut Du'a Toru senantiasa mendiamkan diri. Perempuan yang gagah berani itu selalu menyinggahi tempat ini.

Akibat sejuknya situasi tempat ini, tak sadar saya pun ketiduran di atas batu sebelum dua bocah mengagetkan saya dengan atraksi-atraksi kecil . Baim bahkan mengajari bocah Wair Horet menggunakan kamera DSRL. Tempat yang indah ini pantas menjadi destinasi Kabupaten Sikka.

Kata Om Tarsi, biasanya monyet-monyet akan berseliweran di area ini. Namun entah kenapa sore ini kami tidak menjumpai mereka. Ya mungkin saja lain kali kami beruntung.

Air terjun ini juga sering didatangi para turis mancanegara. Meski jumlahnya satu-dua setiap bulan namun bagi anak-anak adalah rejeki. Biasanya para bule ini memberikan uang keringat usai mengantar. Anak-anak ini tidak pernah meminta ongkos hantar atau pasang tarif. Para bule ini sudah cukup senang dengan alam nan asri dan ketulusan warga dusun. Demikian Om Tarsi.

Usai menikmati pesonanya, sekitar pukul 17.30 Wita kami memutuskan pulang. Melewati jalan pulang tadi semua kembali tersaji. Kedaan alam yang bikin hati sejuk.

Om Tarsi dan keluarganya meminta kami tak langsung pulang ke Maumere. Ada suguhan makan malam khas dusun. Aromanya bikin perut teriak. Nikmati sekali. Terima kasih Om Tarsi dan Keluarga, Om Karolinus dan alam asri Waer Horet. Sekali lagi kami berterima kasih pada kalian. Sungguh!




Selengkapnya...

Tuesday, 9 December 2014

Jelang 22 Tahun Tsunami, Gempa Goyang Maumere

Jelang Peringatan Gempa Tsunami Flores yang jatuh tanggal 12 Desember 2014, Maumere dikejutkan dengan guncangan gempa. Gempa tersebut bergetar empat hari menjelang tanggal memilukan 12 desember. Yup, Senin (8/12/14) getaran gempa dengan kekuatan 4.0 Skala Rither melanda. Seperti dikutip dari Pos Kupang, Gempa ini terekam terjadi pada kedalaman 133 kilometer (km). Informasi terjadinya gempa bumi di Maumere ini diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Klas I Kupang, Senin (8/12/2014).

Lokasi gempa berada pada 09.11 Lintang Selatan (LS) hingga 122.56 Bujur Timur (BT).
Gempa yang terjadi sekitar pukul 11:10 wita ini berada di laut dengan kedalaman sekitar 66 km tenggara Maumere, Sikka. Gempa ini pun tidak dapat menimbulkan tsunami.*
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---