Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Monday 27 February 2012

Jejak Sejarah Pasar Geliting

Maumere adalah Ibukota Kabupaten Sikka, terletak di Pulau Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Kota Maumere berada di pesisir Pantai Utara(Pantura)Flores dengan Bandara Frans Seda serta Pelabuhan Laut L.Say sebagai pintu gerbangnya. Lewat inimaumere.com Anda bisa menjelajahi Kabupaten kecil ini, epang gawan (terima kasih) telah berkunjung... Kontak Kami
Pasar Geliting adalah salah satu pasar tua di kabupaten Sikka yang terletak di Geliting ,kecamatan Kewapante,kabupaten sikka.Karena usianya yang sudah tua ini, maka beredarlah wacana bahwa di Tahun 2010 ini pasar Geliting mencapai usianya yang ke-100. Kebenaran wacana ini perlu di telusuri, karena sepanjang pengetahuan saya usia pasar Geliting, sudah lebih dari 100 tahun bahkan dapat di perkirakan sudah mencapai 150 tahun. Bersumber dari tuturan lisan yang saya timba dari kakek moan Mitan Nago, Om-om saya Moan Bapa, Moan Gain dan Moan Jeng dan dari sumber sejarah lokal NTT antara lain Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah NTT, maka saya akan tulis topik ” MENELUSURI JEJAK SEJARAH PASAR GELITING “.
Bahwa pada Zaman dahulu kala, wilayah yang sekarang ini bernama Geliting, oleh para leluhur di sebut” BAN BIHAN “. BAN BIHAN merupakan gabungan kata BAN yang artinya ALIRAN AIR dan BIHAN artinya MEROBEK. Karena itu BAN BIHAN berarti Aliran Air yang Merobek-robek.

BAN BIHAN ini merupakan sebuah mata air di tepi pantai yang keluar dari batu wadas yang terpecah-belah.Oleh karena itu,BAN BIHAN lalu menjadi tempat singgahan para pelaut untuk mengambil air minum. BAN BIHAN adalah Nuba Nanga dari masyarakat Wolon Dobo,wilayah Hoak Hewer Hewokloang,Kerajaan Tradisional KangaE AradaE…

Pada seputar Abad XVI-XVII mulai berkembang kekuasaan islam di wilayah Indonesia Timur,terutamakerajaan Ternate,Gowa dan Bima. Daerah sepanjang pantai pulau Flores,mendapat pengaruh kerajaan Gowa. ( Bdk. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah NTT Hal.7 alinea 4 ).

Orang Gowa menyinggahi BAN BIHAN dan berinteraksi dengan Ata Dobo khususnya dan Ata Krowe pada umumnya. Lalu Orang Gowa di sebutlah ATA GOAN. Pada waktu itu datang juga orang dari Tidore ( Maluku) lalu tersebutlah juga ATA TIDUNG. Ata Goan dan Ata Tidung belum tinggal tetap di BAN BIHAN.

Kemudian pada tahun 1860, Amir Bahren dan Hamzah Bahren menyebarkan Agama Islam di pulau Timor dan Pulau Flores. Dalam penyebarannya agama Islam ini,peranan orang Bugis,Makasar,Wajo dan Buton sangat besar. Di daerah tersebut terdapat kampung-kampung Bugis,Wajo,Makasar dan Buton. Agama mereka sama yaitu Islam, maka semua orang Goa, Tidung,Wajo,Bugis,Makasar dan Buton di sebut ATA GOAN (Bdk.Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah NTT Hal.21 alinea 5 ).

Orang wajo lalu menyinggahi dan menetap di BAN BIHAN. Ban Bihan lalu menjadi tempat pertemuan jula beli antara Ata Krowe dan Ata Wajo,maka tempat pertemuan jual beli itu di sebut REGANG BAJO dan orang Wajo di sebut ATA BAJO. Makin banyak Orang Bajo membangun rumah di seputar Regang Bajo maka tersebutlah NATAR BAJO.

Regang Bajo itu terselenggara pada setiap hari Jumad.sehari sebelumnya yaitu hari Kamis,mulai dari pagi Buta,Ata Krowe sudah datang menunggui Ata Tidore ( Ata Tidung ) untuk saling tukar-menukar.Ata Tidung membawa ikan,garam,kapur sirih,sedang Ata Krowe membawa jagung,kacang,ubi,buah-buahan dan lain-lain.Demikian Regang Bajo itu sudah mulai berlangsung sejak tahun 1860.

Pada tahun 1902, kerajaan tradisional KangaE AradaE jatuh ke tangan penjajah Belanda.
Ratu Keu Nago Raja KangaE yang ke-38 di lengserkan dan di gantikan oleh saudara sepupunya Moan Nai Juje,yang menjadi satu-satunya Raja Koloni Belanda ( 1902 – 1925 ). Disamping menjadi perpanjangan tangan Belanda,beliau juga melakukan terobosan pembanguan,antara lain meningkatkan pembangunan Pasar atau Regang Bajo. Seputar tahun 1905, beliau membangun toko-toko untuk di kontrakan kepada Ata Goan dan Ata Sina ( orang Cina ).

Orang Cina yang pertama datang ke Natar Bajo,oleh Ata Krowe di sapa SINA LOGU LEWU yang artinya Orang Cina yang merunduk di bawah kolong rumah. SINA LOGU LEWU mengontrak sebuah rumah panggung yang bertiang tinggi.Lokasinya di Gudang KUD sekarang ini. Setiap harinya ia menyepuh emas di bawah kolong rumah itu, sehingga di juluki SINA LOGU LEWU.

Anaknya bernama Baba Ting, di samping rumah baba Ting ada toko GO APANG, dan di sebelahnya selatannya ada toko GO TITI. Toko GO APANG di wariskan kepada anaknya GO TJUI sedangkan Toko GO TITI di jual kepada ENCE GEMUK dan diwariskan kepada BABA ILONG karena GO TITI pindah ke Maumere.

Ata Bajo kemudian berpindah ke Wuring,akhirnya Nama Natar Bajo dan Regang Bajo mulai sirna dan muncul nama Kampung Geliting dan Pasar Geliting. Dari mana dan bagaimana asal muasal nama Geliting tidak di ketahui secara persis, karena kata Geliting itu tidak di temukan dalam kosa kata bahasa Krowe. Kata Geliting dalam bahasa Krowe tidak mengandung makna apapun.

Berdasarkan paparan tersebut diatas kita sudah mengetahui bahwa nama BAJO ( Regang Bajo dan Natar Bajo ), berasal dari WAJO YANG ADALAH NAMA DARI SEBUAH KERAJAAN islam di Sulawesi Selatan. Nama Geliting yang menggantikan nama Bajo, belom secara pasti di ketahui asal muasalnya baik dari kata-kata budaya setempat ataupun nama serapan daerah luarnya, namun dari uraian mengenai kedatangan dan keberadaan orang Cina di Natar Bajo, maka dapat di di duga kuat, bahwa nama / kata Geliting berasal dari nama orang Cina pertama yang datang pertama ke Natar Bajo, yaitu GO LIE TING, yang di juluki SINA LOGU LEWU.

Kata GO ( Nama Marga Keluarga Besar GO ) telah bergeser bunyi menjadi GE. Kata LIE terdapat dalam nama orang CINA dan TING nama yang di teruskan kepada anaknya. Nama GO LIE TING, dalam alur sungai sejarah telah bergeser bunyi menjadi Geliting Regang Bajo yang berdiri pada tahun 1860 – an telah berubah menjadi Pasar Geliting sejak tahun 1905 sampai dengan sekarang.

Natar Bajo yang berdiri di tahun 1860 telah berubah menjadi Kampung Geliting, yang kini menjelma menjadi Desa Geliting. Sedangkan Nama Bajo masih diabadikan dengan dusun Bajo.
Dengan demikian REGANG BAJO dan atau PASAR GELITING pada tahun 2010 telah mencapai usia 150 tahun…
KEWAPANTE, 19-MEI-2010(LONGGINUS DIOGO).

www.inimaumere.com

Artikel Terkait



 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs: Jejak Sejarah Pasar Geliting | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---