Selamat Datang di Maumere...

SELAMAT BUAT PAKET AN-SAR (YOS ANSAR RERA-P.NONG SUSAR) yang dipercayakan masyarakat Kabupaten Sikka sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI SIKKA 2013-2018..
Pemandangan di Kolisia, Kecamatan Magepanda

Saturday, 26 May 2012

Kapolres Sikka: Mau Main Narkoba Pecat

"Saya sebagai Kapolres Sikka sudah warning alias ingatkan jangan main-main dengan narkoba. Mau main resikonya dipecat dari keanggotaan Polri. Saya sebagai pimpinan punya rasa kemanusian dan punya rasa iba. Tetapi ini dalam rangka menegakkan aturan apalagi yang terlibat adalah oknum polisi. Saya tidak mau citra polisi rusak. Saya tegakkan aturan," Demikian penegasan Kapolres Sikka, AKBP.Drs.Ghiri Prawijaya ketika dihubungi Pos Kupang,Kamis (24/5/2012) siang per-telepon. Kapolres Ghiri dikonfirmasi terkait IWC, oknum polisi ditangkap Tim Narkoba Polda NTT dan BNN di Jakarta, Senin (21/5/2012) malam di Lapangan Kiota Baru-Maumere.
Ia menegaskan, setiap kali dirinya selalu memberikan warning bagi anggota Polres Sikka. Warning bagi anggota agar jangan bermain narkoba. "Kita sudah warning. Ini bukti kalau siapa yang mau main-main narkoba kita tindak tegas. Apalagi anggota polisi resikonya jelas. Yang jelas saya usul kalau terbukti dia pecat," tegasnya.

Ia mengatakan, kasus ini membuat mata semua anggota polisi di Polres Sikka. "Mau main silahkan. Ingat resiko dipecat. Jangan anda pikir ada yang bermain saya sebagai kapolres akan bela. Saya minta diproses. Ingat anda punya istri dan anak. Jangan melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Berani berbuat berani tanggungjawab," tegas Kapolres Ghiri.(pos-kupang.com)
Selengkapnya...

Monday, 14 May 2012

Kembali ke Pangabatang

Sepertinya tak habis-habis bikin kisah di Pangabatang. Pulau mungil yang tergeletak diantara beberapa pulau besar dalam gugus Teluk Maumere, Kabupaten Sikka. Kecil-kecil cabe rawit, pulau ini menawarkan sensasi  tak biasa, Tubuhnya berbalut pasir putih nan halus. Airnya bening dan banyak ikan. Pemandangan alam bawah lautnya spektakuler dan lain-lain. Pulau ini tak panjang, sekitar 800 meter dan lebar yang tak lebih dari 100 meter dengan permukaan yang datar. Berada disana bisa jadi pilihan yang tepat ditengah rutinitas. Untuk mencapai Pangabatang dimulai dengan keberangkatan dari Desa Nangahale Gete dipesisir Talibura. Dengan menumpang perahu motor berbadan kecil, juru mudinya setia mendampingi kita hingga usai.
Pangabatang Island saat ini terpencil dari berbagai informasi. Meski cantik, akibat kurangnya promosi pulau ini akhirnya terkukung dalam kesepian. Seperti biasa, Dinas Pariwisata daerah ini entah mengapa, tak merespon baik keindahan ciptaan Tuhan ini. Ataukah ada alasan lain? Disana tak akan ditemui siapapun kecuali penduduk Pangabatang yang mendiami ujung barat pulau itu. Mereka telah hidup di Pangabatang sejak dulu kala. Kini ada sekitar 80 jiwa yang berkehidupan disana sebagai nelayan. Tidak ada sekolah dan bangunan lain selain rumah warga, kesederhanaanya merupakan keunikan sendiri.

baca artikel lengkap: Sensasi di Pangabatang

  PANGABATANG ISLAND

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Ivan Nestorman dan Tri Utami Tabur Kegembiraan di Ritapiret

Ritapiret, Sabtu (5/5/2012) agak berbeda. Malam minggu itu, ditengah genitnya hawa dingin menusuk pori-pori kulit. Dan kegelisahaan bulan yang tersembunyi dibalik awan gelap, lantunan suara nan merdu terdengar menyeruak membongkar dinding sunyi. Kali ini ada yang berbeeda. Bukan nada-nada ciptaan Mozart atau Engelberth yang biasa terlantun dari mulut para calon pastor. Tidak. Kali ini Sang Maestro jazz etnik Ivan Nestorman bersama penyanyi jazz kawakan Tri Utami yang hadir. Dalam kemesraan nada-nada indah ditengah ratusan pasang mata mahasiswa, para imam, dan biarawan/wati serta sejumlah umat lainnya, Aula Ritapiret jadi saksi sejarah bagi semua yang hadir. Kedua artis jazz tanpa sungkan berbaur dalam kemesraan ala Ritapiret. Mahasiwa dan biarawan yang biasa terkungkung dalam studi yang melelahkan menumpahkan semua kegembiraan. Mereka berpegang tangan menggerakan tubuh dalam satu irama tarian Flores saat Ivan menggedor kerinduan para mahasiswa akan kampung halamn mereka.

Tri yang biasa disapa Mbak I'ik nampak seperti wanita Sikka umumnya. Mengenakan sarung Sikka berbalut kaos hitam ditubuh mungilnya ia terlihat anggun. Sedikit berbeda dengan Ivan yang memadukan kaos hitam dan kain lipa berwarna putih.

Diatas panggung sederhana, tanpa lighting dan tetek bengek lainnya ,keduanya bergantian mengolah vokal. Ivan Nestorman musisi dan penyanti beraliran jazz etnik asal Ruteng, Manggarai menyentil telinga saat membawkan berbagai tembang etnik Flores yang diambil dari beberapa albumnya yang telah diaransemen ulang. Aplaus disetiap lagu jangan ditanya lagi. Semua mata terpaku tajam kedepan. Sosok lelaki diatas panggung dengan gitar akustiknya terus bernyanyi dan menebarkan senyum.

 Lamalera Band featuring Tri Utami, tertulis jelas dikain berwarna biru langit yang menjadi latar panggung. Rombongan ini sebelumnya mematri kehadiran di Lamalera, Lembata. Sebuah pulau diujung timur Flores yang berdiri menjadi Kabupaten Lembata setelah berpisah dari saudara tuanya Kabupaten Flores Timur.

Di Lamalera, seperti diberitakan berbagai media, Ivan Nestorman dan Tri Utami serta rombongan dari Jakarta mengikuti misa Lifa yakni misa pembukaan perburuan ikan paus secara tradisional tanggal 1 Mei lalu sekaligus menghibur warga setempat. Keduanya dalam misi mengkampanyekan penangkapan paus secara tradisional agar tak punah. Ivan dan Tri bukan hanya sekedar bernyanyi. Mereka juga tanpa basa basi bertegur sapa dengan penonton yang rata-rata adalah para penghuni Seminari Ritapiret.

Hingga akhir acara, Ivan terus memberi kegembiraan dengan sejumlah tembang daerah, mengiringi kegembiraan pecinta mereka yang melantai dalam irama ja'i, dolo-dolo ataupun gawi. Begitu pula Tri Utami yang jelas sekali nampak ceria dan mampu menggojlok salah satu mahasiswa seminari diatas panggung. Saat membawakan Ave Maria, Tri mengeluarkan kemampuan olah vokalnya yang luar biasa. Aplaus panjang malam itu pantas buat penyanyi senior ini.

Lamalera Band sebagai band pengiring terdiri dari sejumlah musisi Flores yang telah lama malang melintang dijagat musik ibukota. Pada posisi perkusi diisi Andre de Rromma,drumer Matahari Reggae Band asal Jakarta. Andre adalah putra Kampung Kabor, Maumere. Posisi keyboard diisi Yansen yang berdarah asli Maulo'o, Paga. Baru pertama kali ini, musisi berambut brekeleyang sering tampil bareng band reggae Steven Jam, Ras Muhamad dan lainnya menginjakan kaki di tanah kedua orangtunya. Vincent, putra berdarah Bola, Sikka yang bermain pada instrumen musik Saxopone sama seperti Yansen, menjadi musisi pada band-band reggae terkenal ibukota, bahkan keduanya bersama Andre sering tampil di Radioshow Tv One. Geshi Radja, putra Ende yang berdomisili di Surabaya dipercaya pada posisi guitar.

Malam yang menghibur tersebut berjalan hampir dua jam. Nampak jelas terbersit kepuasan dari wajah penonton ketika musik berakhir. Diganti nyanyian cemara yang diterpa angin, Ritapiret kembali sunyi senyap berganti rutinitas biasa, belajar dan melayani umat.

Semoga saja misi mulia dari rombongan ini, menjadi pegangan bersama bagisemua insan yang masih peduli akan kearifan lokal warga setempat terkhusus daerah perburuan paus yang melegenda, Lamlera.

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Senang di Daerah Terpencil

Ketika pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemkes RI) tahun 2011 lalu membuka peluang kerja bagi tamatan fakultas kedokteran untuk mengabdi di sejumlah daerah di Indonesia dengan status pegawai tidak tetap (PTT), Dokter Nita Anindita sudah melirik dua daerah di kawasan timur Indonesia menjadi tempat pengabdiannya, yaitu Propinsi Gorontalo di Sulawesi dan Kabupaten Sikka di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)). Setelah dipikir-pikir, Nita, begitu ia akrab disapa, menjatuhkan pilihan pengabdiannya di Kabupaten Sikka. Maka sejak Oktober 2011 lalu, dr. Nita ditempatkan Kemkes RI di Puskesmas Teluk Maumere, Desa Gunung Sari, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka. 

Ditemui Pos Kupang di Desa Parumaan, Kecamatan Alok Timur, ketika hadir saat kunjungan kerja Bupati Sikka di Pulau Terluar Sikka, Selasa (8/5/2012), Nita menuturkan, begitu mendapat tugas sebagai dokter PTT di Sikka, ia merasa senang. Nita mengaku senang karena saat temannya yang terdahulu bernama dr. Retno bertugas di Puskesmas Teluk Maumere, Desa Gunung Sari, Kecamatan Alok, ia sudah dikirimi informasi mengenai suasana di daerah terpencil. Nita mengatakan, ia senang bertugas di Puskesmas Teluk Maumere karena penduduknya ramah.

"Sejak bertugas di Puskesmas Teluk Maumere, walau jauh dari kota, saya merasa senang. Ikan mudah didapat, segar saat dimasak dan enak ketika dimakan. Pantai di Kabupaten Sikka indah," tutur lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta tahun 2009 ini.

Saat tamat di Universitas Trisakti Jakarta, wanita kelahiran Jakarta, 19 November 1984 ini, sempat bertugas di Rumah Sakit Ibu dan Anak Tangerang, Propinsi Banten, selama setahun.

"Sudah tujuh bulan sejak Oktober 2011 saya dan dokter Retno, teman saya, bertugas di Puskesmas Teluk Maumere. Tempat tugas saya sudah saya lihat melalui foto yang dikirim teman saya dr. Retno," tutur wanita periang dan pernah tinggal di Ambon, Maluku bersama orangtuanya.

 Anak dari Yuwono dan Wijayanti yang tinggal di Jakarta Barat ini mengatakan, ingin melanjutkan studinya. Nita pun berharap ke depan Puskesmas Teluk Maumere jadi puskesmas rujukan di Pulau Terluar di Sikka. Wanita yang menamatkan pendidikan SD, SMP dan SMA di Jakarta mengatakan, pada musim angin dan gelombang banyak pasien tidak bisa dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) TC Hillers Maumere.

"Kalau tidak sempat lanjut studi, saya mau setahun atau tiga tahun tugas di Sikka. Saya senang tugas di Sikka. Apalagi mantan Menkes RI, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih (almarhumah) pernah bertugas di Sikka. Saya ingin sebelum selesai di Puskesmas Teluk Maumere, ada dokter gigi, rumah medis dan peralatan medis ditambah sehingga puskesmas itu bisa diandalkan bagi masyarakat di Pulau Terluar di Sikka," kata Nita.

Nita mengaku, meski baru tujuh bulan lebih bertugas di Sikka, cukup banyak tantangan dan hambatan yang dia alami dalam pelayanan kesehatan di pulau terluar. Dia tidak mengutuk pengalaman-pengalaman itu, tetapi menikmati dan menjalaninya dengan senang hati.

 "Tugas di Pulau Terluar di Sikka memang menyenangkan, tapi kalau mau makan buah harus tunggu musimnya. Di Jakarta mau makan buah pasti ada. Kalau di sini, mau makan buah harus sabar sampai ada musimnya. Listrik juga di pulau nyalanya hanya 12 jam saja, belum 24 jam. Kalau makan sih enak karena ada ikan segar dan sayur segala," kata anak pertama dari tiga bersaudara yang ayahnya bekerja di bank swasta di Jakarta.

Bertugas di daerah terpencil tidak mengendurkan pengabdian Nita memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di pulau terluar di Kabupaten Sikka. Alasannya, menjadi dokter sudah menjadi cita-cita Nita sejak kecil. Dan, setelah tamat Nita pun memilih daerah terpencil sebagai tempat pengabdiannya.

 "Saya dulu bercita-cita jadi dokter. Cita-cita itu sudah terwujud, dan sekarang saya enjoy menjalani tugas walau di daerah terpencil," kata Nita. (/Pos-kupang.com/ris)
Selengkapnya...

Tuesday, 1 May 2012

Penyambutan KM Teluk Maumere

Pelabuhan L. Say hari ini, Senin (30/4/2012) simpan sejarah. Pagi itu, sekitar pukul 10.00 Wita, sebuah kapal berbadan kayu dengan ukuran panjang 28 meter dan lebar 6,85 meter milik Pemda Sikka diterima dengan suka cita plus harapan besar. Kehadirannya seakan menjawab persoalan transportasi laut Maumere dan pulau-pulau sekitarnya. Seperti diketahui, kecuali transportasi PP (pulang - pergi) Pulau Pemana pelayaran dari Maumere ke pulau-pulau sekitarnya masih menggunakan kapal tradisional. Resiko keamanan terbilang besar. Untuk itu, kehadiran Kapal Motor (KM) dengan nama anggun KM.Teluk Maumere bisa menjadi sebuah terobosan berarti bagi sistem trasportasi laut di Kabupaten Sikka. KM. Teluk Maumere bisa jadi menjadi favorit para pengguna jasa pelayaran yang ingin bepergian secara aman dan nyaman.
Pasalnya kapal ini memiliki ruang yang cukup luas dibagian dek bawah maupun lantai atas. Dengan bodi yang cukup lebar, para pemakai jasa Teluk Maumere bisa sedikit rileks saat berlayar. Selain itu tentu kecepatan pelayaran yang bisa memangkas waktu dibanding menggunakan kapal berbadan kecil. Meski cukup besar dan lumayan bagus untuk ukuran pelayaran di kampung, kapal ini juga terlihat aneh. Khususnya diruang dalam kapal tepatnya di dek tengah, tinggi ruangan tersebut tak cukup untuk orang dewasa. Sehingga para penumpang dipastikan mesti menunduk untuk berjalan. Diruangan tersebut juga tak ada ventilasi udara karena kaca jendela yang ada tertutup rapat.

KM Teluk Maumere berdaya tampung 100 penumpang. Direncanakan  akan ada tujuh orang Anak Buah Kapal (ABK). Didalamnya terdapat berbagai ruangan standar seperti ruang kemudi, ruang penumpang yang terletak di dek I dan II, ruang mesin, ruang palka, ruang WC/kamar mandi dan dua kamar tidur ABK serta dapur dan gudang.

 Kapal milik Pemda Sikka ini untuk sementara dikelolah oleh Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Kabupaten Sikka Bidang Perhubungan Laut. Wakil Bupati Sikka Wera Damianus, pada kesempatan penyambutan berharap agar KM Teluk Maumere bisa menjawab kebutuhan sarana transportasi yang aman dan nyaman. Ia juga berharap agar para pemakai jasa pelayaran kapal ini bisa menjaga dan merawat KM Teluk Maumere sehingga tetap berguna bagi kepentingan umum masyarakat.

Penyambutan KM Teluk Maumere beserta ABK-nya ditandai dengan Huler Wair dan pemberkatan secara katolik oleh Romo Pollycarpus. Dilanjutkan dengan uji coba pelayaran pertama mengitari laut Flores bersama Wabub Sikka Wera Damianus serta sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat, awak media dan sejumlah hadirin.

Hadir dalam acara penyambutan ini antara lain Wakil Bupati Sikka Wera Damianus, Ketua DRPD Rafael Raga beserta beberapa anggota dewan, Uskup Maumere Mgr. Kherubim Pareira.SVD, Kapolres Sikka, Dandim Sika, Pimpinan SKPD Pemkab Sikka dan sejumlah tokoh masyarakat

www.inimaumere.com.
Selengkapnya...

Seribu Lilin Keadilan untuk Romo Faustin

Seribu lilin nan anggun begitu terang bercahaya. Sinarnya memancar terang menyinari kegelapan di Taman Kristus Raja. Cahayanya berkerlap-kerlip seakan turut mearasakan perasaan duka sejumlah umat yang berdoa bagi Romo Faustinus Sega, Pr yang meningggal setelah dibunuh pada tahun 2008 lalu. Cerita tragis yang menyentuh nurani setiap insan tersebut, dihayati dalam ungkapan syukur atas diberinya hukuman oleh Mahkamah Agung RI terhadap dua terdakwa Theresia Tawa dan Rogasianus Waja. Keduanya diganjar hukuman 10 tahun penjara lewat putusan Mahkamah Agung (MA) No.2197 K/Pid/2010 untuk Theresia Tawa, dan putusan MA No. 2195 K/Pid/2010 untuk Rogasianus Waja. Kisah tragis ini terjadi Senin siang 13 Oktober tahun 2008 lalu.

Saat itu Romo Faustinus Sega, Pr, Pastor Pembantu di Paroki St. Yoseph Raja, ditemukan tewas dan wajahnya nyaris tak dikenal oleh seorang penggembala sapi di batas antara Desa Mengeruda, Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada dan Kelurahan Olakile, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo. Atas keptusan hukuman tersebut, sebagai ungkapan suykur dan terima kasih, sejumlah umat terutama dari pihak keluarga, Tim Pencari Fakta (TPF) keluarga, PMKRI Sikka dan sejumlah umat lainnya menggelar "Malam Seribu Lilin Keadilan" di Taman Kristus Raja, Maumere, Jumat (27/4). 

 Dalam malam renungan dan doa tersebut, seribu lilin dinyalakan dari depan pintu Taman Kristus Raja hingga pelataran Patung Kristus Raja. Seribu lilin keadilan menyentuh kalbu sejumlah umat yang larut dalam mpendar cahayanya. Perjuangan yang panjang pihak keluarga untuk mencari keadilan telah melewati waktu yang panjang dan melelahkan dan dalam tangis duka keluarga terjawab sudah lewat putusan MA. 

www.inimaumere.com
Selengkapnya...

Friday, 20 April 2012

Empat Belas Rumah Terbakar

Empat belas rumah warga di Nangahure Lembah, RT 06/RW 02 Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka ludes dilahap si jago merah, Rabu (18/4) malam. Kejadian yang menimpa perumahan warga etnis Tidung Bajao terbut tak bisa dikendalikan. Jarak sekitar 12 kilometer dari Kota Maumere membuat mobil pemadam kebakaran telat tiba dilokasi ketika sang api telah melahap sebagian besar rumah warga. Barang-barang milik warga sebagian besar tidak bisa diselematkan. Warga berhamburan lari dalam keadaan panik. Hanya sebagian kecil barang-barang yang mampu diselamatkan. Kerugian diperkirakan ratusan juta. Menurut informasi, api diduga berasal dari kios sembako milik Junedi. Kejadian bermula pada saat sang pemilik kios bensin dan solar tersebut sedang membungkus gula pasir menggunakan nyala lilin.

Api menyambar begitu cepat ketika tak diduga lilin yang yang digunakan untuk merekat bungkusan plastik jualan jatuh dekat botol bensin.

Kejadian berikutnya berlangsung cepat. Api kemudian membesar meski Juedi sempat berusaha memadamkannya. Api kemudian menjalar dan membakar rumah-rumah disekitarnya. Kejadian yang sunggguh tragis sekitar pukul 19.00 Wita, selain membakar rumah-rumah warga juga memngakibatkan Junedi harus dilarikan ke Rumah Sakit TC. Hillers Maumere akibat luka bakar disebagian tubuhnya.

Warga perumahan Nangahure Lembah yang mengalami musibah kemudian di evakuasi Tim Basarnas dan sejumlah personil TNI Angkatan Laut (AL). Korban yang mengalami luka dirawat secara intensif di klinIK AL. Polisi yang tiba dilokasi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

14 rumah yang mengalami musibah di Nangahure Lembah merupakan bantuan pemerintah tahun 1992 saat gempa bumi dan tsunami menimpa pesisir utara Flores. Ada sekitar 168 jiwa yang menempati perkampungan tersebut. Kebanyakan rumah sudah direhab, meski sebagian masih berdinding tripleks.

foto: Yessi Mof
www.inimaumere.com
Selengkapnya...

 

© 2007 MaUmErE oF FlOrEs | Design by MaUmErE Of FlOrEs







---[[ KeMbAlI kE aTaS ]]---